BTN Akuisisi Bank Victoria Syariah untuk Perkuat BTN Syariah, Target Rampung Kuartal III-2025

JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) resmi mendapatkan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk mengakuisisi PT Bank Victoria Syariah (BVIS). Aksi korporasi ini menjadi bagian dari pemekaran unit usaha syariah BTN Syariah menjadi bank umum syariah (BUS). Selanjutnya, BTN akan mengajukan izin akuisisi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengatakan pemisahan unit usaha syariah wajib dilakukan sesuai ketentuan POJK 12 Tahun 2023. “Skema yang kami lakukan adalah mengakuisisi bank umum syariah dan mengintegrasikan BTN Syariah ke dalam bank hasil akuisisi,” ujarnya saat konferensi pers usai RUPST di Jakarta, Rabu, 26 Maret 2025.

BTN sebelumnya telah menandatangani perjanjian jual beli bersyarat (CSPA) dengan pemegang saham BVIS, yaitu PT Victoria Investama Tbk, PT Bank Victoria International Tbk, dan Balai Harta Peninggalan Jakarta. BTN akan mengambil alih 100% saham BVIS dengan nilai transaksi sekitar Rp1,06 triliun, menggunakan dana internal yang sudah disiapkan.

Setelah mendapatkan persetujuan regulator, BTN akan menyelesaikan integrasi BTN Syariah ke dalam BVIS, yang ditargetkan rampung pada kuartal III-2025. Nixon optimistis BTN Syariah akan menjadi kekuatan baru di industri perbankan syariah nasional, dengan proyeksi pertumbuhan aset mencapai Rp100 triliun dalam tiga tahun ke depan.

Selain mengesahkan akuisisi, RUPST BTN juga menyetujui pembagian dividen sebesar 25% dari laba bersih tahun 2024 sebesar Rp3 triliun, atau senilai Rp751,83 miliar. Sisanya, Rp2,25 triliun akan digunakan sebagai laba ditahan untuk pengembangan usaha. Dividen yang dibagikan setara Rp53,57 per saham, diberikan kepada pemerintah (60%) dan publik (40%).

BTN menutup tahun 2024 dengan total aset Rp469,61 triliun, naik 7,03%. Kredit dan pembiayaan tercatat Rp357,97 triliun, tumbuh 7,3%, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp381,67 triliun, tumbuh 9,1%. Tahun ini, aset ditargetkan menembus Rp500 triliun, dengan pertumbuhan kredit 7-8% dan DPK 8-9%. “Kami akan terus fokus memberikan akses pembiayaan rumah bagi masyarakat, sembari menjaga prinsip kehati-hatian,” kata Nixon.

Dalam RUPST, BTN juga menetapkan perubahan susunan pengurus dan menyetujui penghapusan tagih piutang macet Rp318 miliar. Nixon menutup dengan mengapresiasi kontribusi jajaran direksi dan komisaris lama atas dedikasi mereka dalam memajukan BTN.***