Raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Microsoft, tengah memfinalisasi kerja sama strategis dengan PT PLN (Persero) untuk memasok 200 megawatt (MW) tenaga surya yang akan digunakan untuk mendukung operasional pusat data (data center) mereka di Indonesia. Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen perusahaan dalam meminimalkan jejak karbon serta memperkuat penggunaan energi terbarukan di era digital.
Rencana kerja sama tersebut diumumkan saat delegasi Microsoft, dipimpin oleh President Cloud Operations & Innovation Noelle Walsh, melakukan kunjungan ke fasilitas pusat data Microsoft di Karawang, Jawa Barat. Menurut Walsh, kesepakatan dengan PLN diproyeksikan akan berdampak jangka panjang dalam penyediaan energi bersih bagi jaringan listrik nasional dan operasional Microsoft di Indonesia.
Kontrak Energi Surya Jangka Panjang
Kerja sama ini dirancang sebagai kontrak jangka panjang ±10 tahun, di mana listrik dari sumber tenaga surya akan disalurkan melalui sistem jaringan PLN dan dimanfaatkan Microsoft untuk memenuhi kebutuhan energi pusat data mereka. Proyek ini merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mengintegrasikan energi terbarukan ke dalam infrastruktur digitalnya.
“Microsoft sangat serius terhadap aspek keberlanjutan, dan kami yakin dalam waktu dekat kontrak ini akan diumumkan secara resmi,” ujar Walsh dalam pernyataannya.
Strategi ini menunjukkan bahwa perusahaan teknologi tidak hanya fokus pada ekspansi layanan digital, tetapi juga pada bagaimana operasionalnya berdampak terhadap lingkungan dan penggunaan sumber energi.
Target Energi Bersih dan Netral Karbon
Microsoft sendiri memiliki target ambisius untuk menjadikan 100 persen operasi globalnya bebas dari emisi karbon pada akhir 2025, selangkah lebih cepat dibandingkan banyak perusahaan teknologi besar lainnya. Untuk mencapai hal tersebut, raksasa cloud computing ini terus mengevaluasi dan menambah kapasitas energi terbarukan pada seluruh infrastrukturnya, termasuk pusat data di Indonesia.
Alistair Speirs, General Manager Azure Infrastructure Microsoft, mengatakan bahwa perusahaannya juga tengah melakukan audit menyeluruh terhadap infrastruktur yang mendukung pusat data, termasuk penggunaan bahan bangunan dengan emisi karbon rendah dan teknik desain yang lebih ramah lingkungan.
Selain target karbon, Microsoft juga memiliki aspirasi menjadi “water positive” pada tahun yang sama, yakni kondisi di mana mereka akan mengembalikan lebih banyak air ke lingkungan daripada yang digunakan dalam operasional mereka.
Posisi Indonesia dalam Infrastruktur Digital Global
Data center Microsoft yang berlokasi di Karawang kini memiliki kapasitas hingga 144 MW saat beroperasi penuh. Selain fasilitas ini, Microsoft juga memiliki dua kampus data center lain di Indonesia dengan kapasitas gabungan yang signifikan. Keberadaan data center ini menandai peran penting Indonesia sebagai salah satu basis infrastruktur digital regional yang strategis seiring pertumbuhan ekonomi digital dan kebutuhan data yang terus meningkat di Asia Tenggara.
Ekspansi tenaga surya ini sejalan dengan tren global di mana para pemilik dan penyedia layanan cloud besar, termasuk Microsoft, Amazon, dan Google, semakin banyak mengintegrasikan energi terbarukan ke dalam operasi pusat data mereka demi memenuhi target iklim dan permintaan pelanggan yang semakin peduli lingkungan.
Dampak Potensial bagi Energi Terbarukan Nasional
Kerja sama antara Microsoft dan PLN juga memberi dampak luas bagi percepatan transisi energi di Indonesia — sebuah negara yang memiliki potensi besar dalam sumber energi terbarukan seperti tenaga surya. Pemerintah Indonesia telah mengidentifikasi berbagai proyek tenaga surya, termasuk program Project X Nusantara yang bertujuan mengembangkan kapasitas energi hijau hingga ribuan megawatt bersama investor strategis.
Dengan momentum seperti ini, kolaborasi antara perusahaan teknologi global dan BUMN seperti PLN diharapkan dapat mempercepat realisasi energi bersih dan memperluas akses listrik yang ramah lingkungan bagi berbagai sektor industri di Tanah Air.






