Setiap awal tahun, jutaan orang menuliskan resolusi sebagai bagian dari tradisi menyambut lembaran baru. Namun, tak sedikit dari resolusi tersebut berakhir gagal bahkan sebelum bulan Februari tiba. Menurut pakar psikologi dan pelatih perilaku, ada cara sederhana untuk meningkatkan kemungkinan keberhasilan: hindari penggunaan dua kata tertentu dalam perumusan tujuan Anda.
Resolusi Tahun Baru sering kali gagal karena dirumuskan secara terlalu umum, tidak realistis, atau menggunakan bahasa yang bersifat mutlak. Misalnya, frasa seperti “selalu” dan “tidak pernah” justru menciptakan tekanan yang sulit dipertahankan. Ahli menyebut pendekatan seperti ini mengarah pada pola pikir hitam-putih yang membuat satu kesalahan kecil bisa dianggap sebagai kegagalan total.
Psikolog mengungkap bahwa janji diri yang menggunakan kata “selalu” atau “tidak pernah” cenderung menghasilkan target yang kaku dan tidak fleksibel. “Menetapkan misalnya saya akan selalu lari setiap Rabu atau saya tidak akan minum apapun lagi hanya membuat standar yang terlalu tinggi dan rentan runtuh saat ada gangguan dalam rutinitas,” ujar salah satu pakar dalam wawancara yang dikutip dari sumber internasional.
Alih-alih menetapkan resolusi dengan bahasa absolut, pakar menyarankan agar tujuan ditulis dengan cara yang lebih fleksibel dan berfokus pada proses. Contohnya, daripada menulis “selalu berolahraga setiap hari”, seseorang bisa menggantinya dengan “berusaha membangun kebiasaan berolahraga tiga kali seminggu”. Pendekatan ini membuat ruang untuk adaptasi ketika terjadi hambatan, sekaligus menjaga motivasi tetap hidup.
Selain itu, resolusi yang bertahan biasanya memiliki kerangka yang jelas dan realistis. Menurut pakar lain dalam bidang kebiasaan dan manajemen diri, menciptakan tujuan yang spesifik dan terukur jauh lebih efektif ketimbang tujuan yang luas dan abstrak. Hal ini sesuai dengan temuan berbagai studi perilaku yang menunjukkan bahwa mayoritas resolusi gagal karena tidak pernah disusun dengan rencana tindakan konkret.
Strategi lain yang kerap direkomendasikan adalah mulai membangun kebiasaan lebih awal sebelum tahun baru tiba, sebagaimana dianjurkan oleh beberapa ahli perubahan perilaku. Dengan memulai langkah kecil di akhir tahun, seseorang bisa “mengunci” kebiasaan yang diinginkan dan mengurangi tekanan yang datang saat target resmi dimulai pada 1 Januari.
Pakar juga menekankan pentingnya merumuskan resolusi yang bermakna bagi diri sendiri, bukan sekadar menggugurkan tradisi atau mengikuti tren. Menetapkan prioritas yang selaras dengan nilai dan kondisi kehidupan akan membuat komitmen lebih kuat dan realistis, sekaligus lebih mudah untuk diukur dan dikembangkan secara bertahap.
Dengan menghindari penggunaan bahasa yang absolut dan menggunakan strategi penetapan tujuan yang lebih fleksibel, pakar optimistis bahwa resolusi tahun baru bisa berubah dari sekadar daftar harapan menjadi rencana yang berpeluang dicapai. Menurut mereka, keberhasilan bukan hanya soal niat kuat pada hari pertama tahun baru, tetapi mengenai konsistensi dalam proses menuju perubahan yang diinginkan.






