Home / Lifestyle / MPASI ala Generasi Dapur Ngawur

MPASI ala Generasi Dapur Ngawur

KEPRIPOS.COM-Baru dua bulan ini saya menjajal “go public” dengan mulai merambah dunia media sosial. Awalnya sekadar ‘cek ombak’ – ingin menjaring seberapa jauh literasi gizi sesungguhnya para peselancar jagad virtual.

Dalam waktu singkat unggahan saya dilalap 65% populasi berusia 25-34 tahun, 90% perempuan. Alias, para ibu muda.

Yang tadinya saya harapkan bisa menjadi ruang diskusi publik tentang kesehatan pada umumnya dan gizi masyarakat, akhirnya saya kepepet harus membahas makanan pendamping air susu ibu (MPASI).

Topik yang luar biasa seksi, karena siapa sih yang tak mau anaknya pandai, makan lahap dan otaknya cepat tanggap!

Unggahan yang paling laris dikomen tentunya menu dan resep. Seakan-akan para ibu baru ini kehabisan napas mencari keajaiban, agar anaknya lekas gemuk dan pantang GTM – Gerakan Tutup Mulut – alias mogok makan.

Jika orang dewasa berobat karena penyakitnya dan mencari obat ajaib untuk segera sembuh, maka orangtua bayi-bayi bermasalah makan ini berburu resep, agar masa tumbuh kembang anaknya tidak terlambat.

Berbagai drama muncul tentunya, ketika berat badan anak tidak naik atau semua makanan yang sudah dibuat dengan setengah mati berakhir sebagai lepehan dan muntahan. Yang disalahkan makanannya.

Saya menjadi amat prihatin dengan bagaimana generasi baru ini membangun keluarga. Dikira mendapat jodoh yang tepat, foto-foto pre-wedding bak artis dan pernikahan meriah dihelat sudah membuat mereka siap jadi orangtua.

Warisan sebatas rumah dan mobil, serta perhiasan setumpuk saat seserahan. Tapi begitu anaknya lahir dan sulit menyusu, kepanikan pertama muncul. Apalagi, saat anaknya masuk usia perlu diberi makan.

Instagram adalah dunia gemerlap para pemburu isu seru. Bahkan, menjadi buku panduan virtual bagi ibu baru yang hilang akal.

Awalnya saya bingung, kenapa hidup di Indonesia MPASI diberi pernik extravirgin olive oil, unsalted butter hingga keju mini-mini menggemaskan.

Begitu pula ratusan resep membuat MPASI spesial dicetak dan dikejar para ibu yang katanya mau belajar.

Singkat kata, bayinya mogok makan dan terancam berat badan terjun bebas. Diberondong pekerjaan rumah yang mendera, para ibu muda yang kelelahan ini pasrah saat MPASI komersial disuguhkan.

Lebih bervitamin, terukur, dan ‘dijamin’ anak suka. Jurus yang kelihatannya praktis dan sederhana, tapi nyatanya tetap membuat anak berdrama.

Waktu berjalan terus dan bayi makin kurus. Bubur sudah dibanjur segala macam minyak, beragam jenis mentega sudah dicoba. Hingga ada anak yang akhirnya perlu dipasang selang hidung-lambung, nasogastric tube.

Pekerjaan rumah kita banyak sekali. Pasangan menikah tanpa diwarisi keterampilan hidup, membuat perjalanan pernikahan mereka ambyar.

Hanya karena anak tidak mau menyusu dan makan, suami istri bisa saling menyalahkan dan keadaan makin memprihatinkan.

Semua dimulai dari pendidikan. Soal menyusui saja, manusia tidak bisa mengandalkan insting atau naluri seperti makhluk hidup lain.

Edukasi sebelum anak lahir, memahami cara menyusui yang benar – menjamin ASI ekslusif lancar bahkan tanpa terjebak rayuan penjual ‘ASI booster’ di lapak-lapak virtual, mulai dari minuman ajaib murah hingga kapsul mahal.

Begitu pula memahami bayi yang butuh stimulasi oral, mengenal berbagai tekstur dan konsistensi makanan barunya selepas ASI saja selama 6 bulan, membutuhkan kesabaran dan kecermatan.

Orangtua yang sibuk dengan dunianya, dengan alasan kerja mencari nafkah, menyisakan bayi di masa tumbuh kembangnya jauh dari kata hidup penuh berkah.

Yang ada setiap kali si bayi menangis tak mau makan, ibunya marah dan memberi apa pun asal anaknya diam dan mau mengunyah. Padahal, makhluk tak berdaya ini sedang melawan nyerinya gusi sedang tumbuh gigi.

Menyalahkan makanan tidak enak, membuat orangtua mengasumsikan selera bayi seperti diri sendiri.

Alhasil di usia dini anak Indonesia sudah jago mengenal ‘aneka rasa’. Memperkaya wawasan? Nanti dulu. Rasa itu datang dari mana.

Para pakar setuju bahwa anak bukanlah dewasa mini. Terlalu sibuk dengan rasa asesori, sibuk meracik bumbu aromatik – ibu akhirnya kerap lupa mana yang jadi esensi.

Padahal sekian puluh tahun yang lalu, ibu dibesarkan tanpa stunting hanya dengan bubur nasi ulek saring berisi hati ayam, wortel, dan bayam. Plus kerokan pisang atau pepaya.

Di masa sekarang, ibu baru tidak tahu bahwa pisang yang belum matang betul membuat anaknya sembelit, sementara pisang dengan kulit yang sudah berbintik coklat menandakan kematangan sempurna – justru menjadi buah ampuh untuk rutinitas buang air besar.

Kian banyak informasi bertubi-tubi bagai peluru nyasar menghujani banyak keluarga muda yang pengetahuannya semakin ambyar. Ilmu peras kaldu hingga aturan beras, ayam, sayur harus organik membuat saya ngeri luar biasa.

Belum lagi ajaran tanpa landasan soal bayi diberi telur kuning mentah – sebagai bagian dari ‘kesehatan’. Faktanya, bayi bisa terserang Salmonella. Selain itu, telur mentah memang tidak bisa dicerna manusia.

Saat memberi makan anak adalah momen keluarga muda mengevaluasi meja makannya. Sebab anak meniru, orangtua jadi guru. Di ulang tahunnya yang pertama, ia mulai berpindah dari rasa ayam saja menjadi opor ayam.

Bisa dibayangkan, jika orangtuanya tidak bermodalkan keterampilan hidup, lalu bagaimana gaya hidupnya?

Memasak, bukan keahlian. Sama seperti ibu yang berhasil menyusui anaknya eksklusif 6 bulan bahkan diteruskan hingga 2 tahun atau lebih.

Semuanya adalah tentang menjadi terampil – dilakukan menjadi bisa dan biasa. Yang awalnya dimulai dengan terpaksa dan dipaksa (oleh situasi).

Keterampilan memasak dimulai dari memilih bahan, meraciknya, dan mengolahnya. Punya bahan bagus, salah mengolah, semuanya jadi salah.

Contoh paling nyata adalah tentang ikan. Semua ikan laut kaya akan omega3, yang justru rusak bahkan menjadi trans fat yang merugikan kesehatan apabila diolah dengan cara menggoreng.

Dapur masa kini jarang memasak dengan urutan dari nol. Memasak akhirnya hanya seni mencampur produk. Sosis digoreng berlumur saos dan kecap.

Dari bahan olahan yang jauh dari kata sehat, dihajar minyak rafinasi saat menggoreng dan diaduk produk ultra proses.

Menjadi moderen yang salah kaprah akhirnya kita harus menelan ludah: ekonomi yang disusun bak batu bata rumah ambyar seketika saat penyakit mendera bergiliran.

Unggahan saya di media sosial tentang risiko kematian dini akibat 25% kalori berasal dari produk ultra proses tidak digubris. Tidak dianggap menarik.

Hanya beberapa orang cerdas yang prihatin akhirnya mulai buka suara – itu pun bingung harus bikin apa.

Pemerintah harus bekerja keras menata semua masalah literasi gizi dimulai dari dini. Tidak hanya gembar gembor soal perubahan perilaku.

Siapa yang mau berubah jika kebijakan masih sama dan media sosial berisi pasukan garis keras yang membela lapaknya, tanpa mau tahu ke depannya anak-anak ini bagaimana.

Menyewa influencer sebagai juru bicara akhirnya seperti pedang bermata dua, karena mereka sendiri tidak jelas jalan hidupnya ke mana, apalagi pernah menata rencana apa yang dimasak untuk keluarganya. Yang pasti mereka seringnya bertanya: makan apa, sama siapa, dan kita mau ke mana?
(kompas.com)

Check Also

Pola Pikir Positif Ibu Menghasilkan Anak yang Tangguh

KEPRIPOS.COM-Otak anak membutuhkan banyak hal untuk tumbuh dan berkembang dengan cara yang sehat. Selain nutrisi, …

Leave a Reply