KEPRIPOS– Di era disrupsi teknologi, jumlah karyawan perbankan dilaporkan terus menurun dalam tiga tahun terakhir ini. Bahkan, jumlah karyawan bank besar seperti PT Bank Central Asia Tbk. juga mulai turun sejak 2017 setelah terus meningkat pada tiga tahun tahun sebelumnya.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. pun dalam kondisi yang sama. Hanya dua bank pelat merah, yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang masih konsisten menambah jumlah karyawannya dalam tiga tahun terakhir.
Rico Usthania Frans, Direktur Teknologi Informasi dan Operasi Bank Mandiri, mengatakan bahwa 50 persen posisi kerja karyawan perbankan yang ada saat ini akan hilang dalam waktu 10 tahun mendatang. “Ini perlu dipikirkan bersama. Kita butuh relokasi sumber daya manusia,” seperti dikutip Bisnis.com, Rabu 20 Maret 2019.
Endang Hidayatullah, Direktur Kepatuhan Bank BNI menuturkan bahwa kebutuhan pegawai akan terus berubah seiring dengan perkembangan teknologi digital.“Arah kami adalah tetap mengoptimalkan pegawai yang ada dengan sistem alih fungsi, misalnya dulu teller, sekarang jadi sales,”
Dia menambahkan, komposisi alih fungsi tugas tersebut mencapai 60 persen dari total karyawan. Jumlah tersebut merupakan pekerjaan rutin yang kini sudah digantikan oleh teknologi.
CEO Citi Indonesia Batara Sianturi menuturkan tidak lama lagi perbankan akan butuh sumber daya manusia (SDM) yang memiliki daya analisis tinggi, bukan lagi kemampuan administrasi dan pelayanan seperti teller.
Secara umum, pekerjaan yang akan paling cepat terdampak adalah posisi front office. Citibank berencana tidak akan menambah jaringan secara fisik. “Digital itu shifting. Jangan heran nanti kalau ada bank yang butuh banyak kemampuan IT , bukan ekonomi, karena ada perubahan model bisnis,” tutur Batara.
PT Bank Danamon Indonesia Tbk. tercatat menjadi bank yang paling masif memotong jumlah karyawan. Sejak 2014—2018, bank yang akan melebur dengan Mitsubishi UFJ Financial Group telah mengurangi 10.177 karyawan.
Ketua Umum Serikat Kerja Bank Danamon Abdoel Moedjib mengatakan bahwa hal itu mutlak terjadi dan merupakan bagian dari implementasi teknologi.“Hampir semua bagian terkena dampak, mulai dari front office hingga back office. Analis kredit ini dulu bisa butuh sampai 12 orang satu cabang, sekarang 2—3 orang,” ujar Moedjib.
Bhima Yudhistira, Ekonom Institute For Development of Economics and Finance, menjelaskan bahwa penurunan jumlah pegawai perbankan akan menimpa bank dengan modal inti Rp5 triliun hingga lebih dari Rp30 triliun karena memiliki modal besar untuk melakukan digitalisasi bisnis. “Teknologi dalam jangka panjang itu lebih murah dibandingkan dengan membuka kantor cabang baru yang harus diisi oleh karyawan,” kata dia. (tempo)