Home / Berita / Pedagang Pasar Induk Jodoh Minta Waktu Pindah hingga Januari 2019

Pedagang Pasar Induk Jodoh Minta Waktu Pindah hingga Januari 2019

KEPRIPOS.COM (KPC) – Pedagang Pasar Induk Jodoh meminta waktu hingga Januari 2019 mendatang. Setelahnya mereka akan pindah sendiri.

Sekretaris Satpol PP Kota Batam, Fridkalter mengungkapkan hal ini berdasarkan pada surat yang dikirim para pedagang, belum lama ini.

“Sesuai dengan surat yang masuk ke kami,” terang, Minggu (7/10).

Ia mengatakan, pemindahan para pedagang dipastikan tertunda. Kini tim terpadu tengah intens melakukan komunikasi dengan para pedagang.

“Pendekatan persuasif terus dilakukan. Sudah pernah duduk juga (antara pedagang dan pemerintah),” kata dia.

Menurutnya, Satpol PP Kota Batam dalam hal ini, tak bisa memprediksi apakah permintaan tersebut diterima atau ditolak. Ini tergantung dinas terkait, dalam hal Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam.

“Tergantung yang punya proyek (Disprindag, red),” imbuhnya.

Batam Pos berusaha mengonfirmasi pihak Disperindag Batam, namun hingga berita ini ditulis baik Kepala Disperindag Kota Batam Zarefriadi maupun Kabid Pasar Disperindag Kota Batam Zulkarnain tidak merespon, pesan singkat maupun panggilan.

Sementara itu dalam pertemuan beberapa waktu lalu, para pedagang mengaku keberatan jika pindah dan harus membayar sewa kembali.

“Kami tak sanggup dilimpahkan ke pihak ketiga dan harus membayar sewa tiap bulannya,” ujar salah satu perwakilan pedagang Abdurahman kepada tim terpadu.

Dikatakannya, para pedagang ingin dialokasikan ke lahan kosong. Bahkan, mereka mempertanyakan sisa lahan pasar induk. Kenapa yang diserahkan ke Pemko hanya 1,5 hektar saja. Padahal dulunya luas pasar induk itu 4,9 hektar. Mereka pun menyanggupi untuk membangun sendiri bangunan tersebut hingga gedung pasar induk baru selesai dibangun.

“Kami siap dialokasikan ke lahan strategis dan kami akan bangun sendiri. Jangan libatkan pihak ketiga, kami ingin selalu bergandengan dengan pemerintah,” imbuhnya lagi.

Ketua Tim Terpadu Kota Batam Yusfa Hendri mengatakan rapat kesekian kalinya itu tetap tak menemukan hasil. Para pedagang malah membahas sejarah pasar induk yang sebenarnya belum menjadi kewenangan Pemko saat ini.

“Yang diserahkan ke kami hanya 1,5 hektar beserta gedung. Mengenai sisa lahan yang disebut itu kami tak tahu,” Jelas Yusfa.

Bahkan Yusfa mengaku Pemko Batam tak bisa menyanggupi permintaan pedagang yang ingin dialokasikan ke lahan kosong. Sebab, Pemko tak memiliki lahan lagi.

“Di kawasan Nagoya dan Batuampar ini tak ada lagi lahan kosong. Semua sudah milik pengembang. Kecuali memang pedagang punya ide untuk lahan mana. Mungkin Pemko bisa memfasilitasi ke pemilik lahan,” terang Yusfa. (batampos)

Check Also

Kajati Banten dan Jajaran Ikuti FGD “Dharma Bakti Insan Adhyaksa Dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia”

SERANG – Bertempat di aula Kejati Banten, Kepala Kejaksaan Tinggi (kajati) Banten Dr. Siswanto, SH.MH …

Leave a Reply